
| Category: | Books |
| Genre: | Childrens Books |
| Author: | Paul Stewart and Chris Riddell |
Seri Pertama dari The Edge Chronicles ini berkisah tentang petualangan Twig dalam menemukan siapa sebenarnya dirinya. Twig yang dibesarkan di antara para Woodtroll di pedalaman Deepwoods merasa terasing dengan dirinya dan lingkungannya, meski Spelda dan Tuntum, pasangan Woodtroll yang membesarkannya selalu menyayanginya. Pertama, karena Twig secara fisik berbeda dari para woodtroll yang bertubuh gemuk dan berkaki pendek, sementara ia kurus dan jangkung. Kedua, Spelda selalu menceritakan tentang siapa sebenarnya dirinya, namun cerita itu tidak pernah sampai pada bagian akhir.
Suatu malam, Spelda mengakhiri ceritanya dengan mengatakan siapa sebenarnya Twig, bahwa ia bukanlah seorang Woodtroll. Twig lalu disarankan untuk tinggal sementara di tempat sepupunya di bagian lain Deepwoods. Malam itu, mulailah Twig berangkat menyusuri jalanan Deepwoods yang gelap dan menyeramkan. Namun, apa yang telah Twig lakukan? Dia telah keluar dari jalur yang seharusnya dilewati, hanya karena tergoda untuk melihat keindahan Deepwoods di waktu malam dengan segala penghuni dan suaranya. Maka, dimulailah petualangan Twig menjelajahi Deepwoods yang gelap dan berhadapan dengan mahluk-mahluk penghuninya: cacing terbang, kaum pembantai, Skullpelt, Caterbird, Bloodoak, Gyle Goblin, Spindlebug, Milchgrub, Banderbear, Wig-wig, Rotsucker, Termagant Trog, Garble, Gabtroll dan mahluk paling jahat di antara yang jahat, yang ditakuti oleh seluruh penghuni deepwoods, Gloamgloazer.
Ibarat keluar dari mulut buaya masuk ke mulut macan, itulah petualangan Twig dalam menghadapi mahluk-mahluk penghuni Deepwoods tersebut. Perjalanan panjang Twig terus berlanjut untuk mencari tahu siapa sebenarnya dirinya, siapakah orang tuanya, benarkah takdirnya berada di luar Deepwoods, seperti yang pernah dikatakan oleh burung bijak Caterbird?
The Edge Chronicles, niscaya akan menjadi daftar bacaan kesukaan anak-anak maupun orang dewasa. Meski cerita fantasi ini tergolong buku anak-anak, namun pesan dan petualangan Twig akan memikat dan menyadarkan siapa saja. Ditambah dengan sisipan ilustrasi yang menarik, akan membuat siapapun penggila fiksi fantasi dan dongeng macam Alice, LOTR, Harry Potter, Narnia dan lain sebagainya pasti terpesona.
Twig yang keluar dari jalur adalah gambaran seseorang yang memilih untuk menjadi berbeda dari kebanyakan remaja pada umumnya. Bagaimana Twig akhirnya menghadapi bermacam bahaya setelah keluar dari jalurnya, adalah sebuah konsekuensi yang harus dijalaninya untuk mendapatkan apa yang dicarinya. Mengikuti kata hati, itulah yang hendak disampaikan oleh buku ini ketika pada suatu waktu, Twig bertemu dengan Gabtroll yang mengajarkan tentang Tongkat Penyihir Hati. Tongkat Penyihir Hati adalah sebuah tongkat yang didirikan di atas tanah bergambar hati. Tongkat kemudian dilepaskan, arah jatuhnya tongkat, itulah petunjuk arah selanjutnya yang akan dijalani.
Di negeri asalnya, The Edge of Chronicle telah terbit sebanyak sebelas buku dengan tiga rangkaian kisah. Secara kronologis cerita, The Edge Chronicles dimulai dari The Quint Saga. Berlanjut dengan The Twig Saga, dan The Rook Saga. Beyond The Deepwoods adalah buku pertama dari rangkaian The Twig Saga. Buku selanjutnya adalah Stormchaser.
Membaca Beyond The Deepwoods, akan membuat pembaca penasaran dan ingin segera tahu, mahluk apalagi yang akan ditemui oleh Twig dalam ketersesatannya di hutan Deepwoods yang gelap dan berbahaya. Menegangkan, menghibur, dan imaginatif. (adi toha)
